Monday

Video & Foto Cerita Film Ayat - Ayat Cinta, Resensi - Review

1. Review Pertama : oleh Cakdul
Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala puja dan puji syukur hanya bagiMu Tuhan semesta alam,  sebuah fenomena meledaknya penjualan novel ayat ayat cinta karya Habiburrahman dan diikuti meledaknya penonton film Ayat Ayat Cinta(AAC) . Tentu kesuksesan ini tidak terlepas dari perjalanan dan perjuangan penulis novel maupun sutradara filmnya. Sejak Awal kang habib sudah menulis banyak buku dan salah satunya AAC yang banyak digandrungi pembacanya, niat kang habib untuk memasukkan nilai nilai Islam adalah bukan komoditi komersil dibidangnya tapi dengan Haqqul yakin beliau niatkan sebagai syiar dan menegakkan ajaran Islam supaya lebih luas dikenal diberbagai kalangan khususnya kaum muda yang saat itu butuh figur keteladanan seperti digambarkan dalam sosok “Fachri”. Mungkin saat itu Kang habib tidak ada niat supaya buku ini menjadi best seller atau penjualan terbanyak, tapi niat beliau lebih mulia dan lebih ikhlas untuk mensyiarkan islam. Dalam hal ini saya pernah membaca majalah tasawuf bahwa diajarkan kepada kita untuk meluruskan niat hanya Untuk Alloh saja semua gerak dan perbuatan kita Maka Alloh menjajikan dunia akan mengikuti kita dengan sendirinya. Tapi sebaliknya jika kita niatkan segala sesuatunya bukan karena Alloh maka tunggulah hasil yang akan mengecewakan kita.

Mari kita telaah lebih jauh lagi tentan alur cerita pada film ini dimana sosok Fachri adalah gambaran idaman setiap muslimah, dia pemuda tampan, cerdas cara berfikirnya selalu berlandaskan islam. Semua itu adalah gambaran impian muslimah yang belum menikah dan sah sah saja seorang muslimah menjadikan kriteria pria impiannya seperti Fachri sebagai pendamping hidupnya dikemudian hari. Dalam hal ini kita di beri gambaran bahwa apa yang kita impikan harus juga dibarengi dengan ikhtiar yang kuat sosok ini tidak nampak pada Nurul teman mahasiswa Fachri yang menyebabkan cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan dalam diri Nurul juga kita bisa mengambil pelajaran untuk muslimah sekarang bukan bersikap hyperaktif mencari pasangan ataupun tidak pernah menampakkan rasa sukanya terhadap Fachri yang kemudian hatinya menjadi iri ketika Fachri tiba tiba sudah menikah dengan “Aisha”.

Pada bagian lain diceritakan bahwa Fachri dipenjara karena fitnah perempuan bernama Noura yang tak lain adalah perempuan yang pernah ditolongnya ketika terjadi KDRT didepan rumahnya. Alloh pasti menguji kadar keimanan kita apakah kita beriman diwaktu sempit atau lapang ataukah beriman diwaktu senang atau susah.?  Pada QS.Albaqarah 155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Atau QS Al Anbiya (21) ayat  35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Bukankah seringkali kita berpikiran bahwa jika kita beriman dan berakhlaq dengan baik maka akan terjadi efek kebaikan terhadap diri kita? Pemikiran itu tidak salah tapi Alloh Yang maha tahu semua niatan kita ingin menguji sampai sejauh mana iman kita? Sama halnya kita disodori orang emas dan diberitahu bahwa ini emas 24 karat apakah kita percaya begitu saja? Pastinya kita akan test kadar emas itu benar apa enggak 24Â karat? Sama halnya dengan keimanan seseorang seperti dalam QS. Tersebut diatas bahwa dengan Rohman Rohim Nya Alloh menginginkan keimanan kita murni 24 karat Lillah ilAlloh dengan cara memberikan ujian atau cobaan. Seperti adegan berikut.

Dalam masa Tahanan itu Fachri bertemu dengan seseorang yang dalam pandangan orang awam orang itu aneh dan agak gak waras. Tapi justru dari sorang itulah keluar kata kata kebenaran yang membuat kita semua interopeksi diri sudah murnikah ibadah kita? Jangan jangan kita sholat kalo lagi butuh? Atau lagi tertimpa musibah? Ataukan jangan jangan kita menilai diri kita suci setelah beribadah menurut syariat yang telah ditentukan Islam? Semua itu bisa menyadarkan kita atau tokoh Fachri bahwa selama ini dia merasa jalannya lurus lurus saja tapi ternyata dia masih menyembunyikan “sesuatu” kepada istrinya? Dan perkataan orang itu juga menyadarkan Fachri bahwa selama didalam tahanan itu dia telah berburuk sangka (mengeluh) kepada Alloh mengapa Alloh menimpakan fitnah ini kepadanya? Maka kita semua termasuk Fachri harus lebih sering beristighfar karena setiap detiknya kita terus menerus digelincirkan oleh Syaitan Laknatulloh untuk dijadikan teman dalam nerakaNya. Na’udzubika himindaalik. Semoga kita cepat tersadar jika kita harus terus mensucikan hati kita kepada Allohu Rabbi.

Dalam adegan dimana Aisah istri Fachri begitu cintanya sampai mengorbankan apapun untuk mendapatkan kebebasan suaminya. Disini kita bisa mengambil hikmah bahwa cinta itu butuh pengorbanan tidak hanya materi tapi juga batin (saat salah satu jalan keluar untuk menyembuhkan Saksi kunci harus dilangsungkan pernikahan poligami antara Fachri dan Maria) begitu pula Cinta kita pada Alloh dibutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit untuk mencapai RidhoNya untuk mendapatkan MahabbahNya yang mengharuskan kita secara Kaffah menjalankan Islam tanpa syarat apapun.

Pada akhirnya sisi kemanusiaan juga ditampakkan dalam adegan bahwa Aisha juga sebagai wanita biasa cemburu ketika Maria juga butuh berdekatan dan bermesraan dengan istri keduanya yang tak lain hal itu terjadi juga atas persetujuan dan ide Aisah sendiri. Begitu sulitnya kita mengamalkan kata IKHLAS. Dan Fachripun mengakui bahwa dia masih baru belajar untuk bersikap ADIL. Hikmah ini mungkin untuk para suami bahwa janganlah atas dasar nafsu mereka boleh berpoligami. Tapi harus berdasarkan Iman dan Taqwa kepada Alloh. Sungguh sangat sulit untuk mencapainya tapi Sulit bukan berarti tidak mungkin. Sebagaimana Alloh berfirman dalam QS.Annisa ayat 3 Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265] [Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah], maka (kawinilah) seorang saja[266]

[Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya..

Selanjutnya pada Adegan Maria meninggal dengan Khusnul khotimah (dalam keadaan sholat) itu adalah Tujuan semua ummat Islam , Mati dengan cara terbaik Khusnul Khotimah dan Hidayah Hak Allohlah yang menyebabkan kejadian tersebut bisa menimpa kita. Kita dan semua orang tidak dapat mengetahui kapan dan dengan cara yang bagaimana Alloh mengambil nyawa kita. Makanya kita terus berdo’a dan mempersiapkan kematian kita sebaik baiknya supaya bisa meninggal dengan cara Khusnul Khotimah.Sudahkah kita meluruskan niat kita hanya karena Alloh? Sudahkan kita terus mensucikan hati kita dan bertauhid hanya kepada Alloh? Sudahkah kita membaca Ayat Ayat Cinta dari Alloh yang tersebar disekitar kita dimuka bumi ini? Ya Alloh Ya Alim semoga kita bisa membaca ayat ayatmu ya Alloh dan menambahkan keimanan kita oleh kejadian yang ada dan menjadikan kita orang yang bisa meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah! Amin Amin Ya Robbal ‘Alamin.
==========================================


2. Review Ke dua : oleh Edo.

Moment pertama, ketika Fahri dipenjara karena difitnah menghamili Noura. Moment ketika dalam ketidaksiapan fahri menerima kenyataan itu, rekan satu selnya menyampaikan state yang sangat luar biasa. Saya tidak ingat persisnya. Tapi pesannya kira kira seperti ini (jika ada yang ingat dan bisa memberikan yang lebih tepat, dengan senang hati).

“Tuhan justru saat ini tengah berbicara denganmu anak muda. Dia tengah bicara denganmu. Selama ini kau telah sombong karena dianggap dan merasa selalu berbuat baik dan benar. Tuhan itu tidak hanya untuk orang-orang yang baik. Tuhan itu untuk seluruh umat manusia. Tuhan tengah bicara padamu anak muda, tentang sabar dan ikhlas”.

Sungguh. Saya merinding. Betapa sering, sadar tidak sadar kita seperti itu. Ketika kita melihat figur teman selnya, saya yakin mayoritas kita, baik difilm itu maupun di kehidupan sehari-hari akan memandang sebelah mata. Tapi betapa dahsyat pesan yang keluar. Kita, sering, mungkin sangat sering terjebak melihat siapa yang bicara, bukan apa yagn disampaikan. Berapa banyak dalam kondisi realnya kita mau mendengarkan pesan, apa lagi pesan yang membawa nama Tuhan, dari orang yang secara fisik seperti itu, tidak menvisualisasikan sebagai ahli agama. berbeda jika yang bicara adalah orang dengan gelar haji didepannya, atau berjubah, hitam keningnya, “senteng” celananya, dan simbol-simbol lainnya.

Dan bunyi pesan itu. Sungguh luar biasa. Betapa sering kita terjebak sebagai sang paling benar. Betapa banyak orang-orang yang mengatasnamakan Tuhan, namun tidak sedikit yang ujung-ujungnya menjadikannya hanya sebatas sebagai *maaf* kondom belaka.

Tuhan tengah bicara padamu. Dan dalam prakteknya, kita justru sering memaki dan mengeluh pada Tuhan ketika kita diberi kesusahan. Berapa banyak dari kita yang mensyukuri sebuah kesulitan, dan menganggap pada situasi seperti itulah Tuhan berada sangat dekat, berbicara pada kita, mengingatkan kita.

Dan ya. Tuhan bukan hanya milik orang-orang baik. Tuhan ada untuk kita semua, tanpa terkecuali. Sebuah pesan yang dahsyat. Dan moment ketika Fahri mengalami kesulitan yang amat sangat untuk khusu’ dalam sholatnya, juga mencuri perhatian saya.

Sabar. Ikhlas. Kata-kata yang sangat pas. Mudah diucapkan, namun berat dilaksanakan.

Moment berikutnya adalah ketika Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria. Entah kenapa, saya justru sangat merinding. Jelas, tidak mudah bagi Aisha untuk meminta -bukan sekedar mengizinkan- tapi meminta suaminya untuk menikahi wanita lain. Jelas, dibutuhkan mental, kelegowoan, kejernihan hati dan fikiran, dan keikhlasan yang luar biasa. Jelas secara real amat sangat tidak mudah. Wanita yang sangat luar biasa.

Alasan yang dikemukakan oleh Aisha juga sangat menarik untuk dicermati. Dia bukan meminta suaminya menikahi karena kasihan pada Maria. Meski dia menyatakan bahwa dia meminta karena kasih dan sayang, dan agar anak dikandungannya mengenal bapaknya, tapi alasan utama yang dia keluarkanlah yang luar biasa.

“Aku melihat sisi muslimah dalam diri Maria”.

Saya yakin ini salah satu yang dianggap kontroversi bagi beberapa rekan yang lebih memahami agama daripada saya. Namun justru peristiwa itulah yang menyebabkan kekaguman dan mempertebal keyakinan saya atas agama yang saya anut. Sungguh. Saya makin meyakini bahwa Islam, keyakinan yang saya anut benar-benar membawa pada keselamatan hidup, dunia dan akhirat.

Menariknya, Aisha tidak divisualisasikan sebagai wanita yang hebat dan sempurna. Aisha justru diperlihatkan sebagaimana layaknya wanita yang tidak rela berbagi kasih sayang suami yang ia cintai. Dia tetap tidak siap melihat prosesi suaminya menikahi wanita lain -yang secara menarik, keluarnya Aisha dari ruangan tersebut diiringi dengan ucapan syahadat dari Maria, yang menyatakan bahwa dia lalu menjadi seorang muslimah-. Dia tetaplah wanita biasa yang cemburu, tak rela berbagi. Dia melakukan itu justru atas rasa cintanya yang mendalam, karena dia ingin suaminya keluar dari penjara, menjadi ayah bagi bayi dikandungannya, karena hanya Maria adalah satu-satunya saksi yang bisa membebaskan suaminya. Namun disitulah dia terlihat sempurna dimata saya.

Di dua moment ini, saya tak mampu menahan keharuan.

Dimata saya yang awam ini, film ini justru sebuah fenomena dakwah yang luar biasa. Mungkin tidak semua orang sepakat. Tapi Hollywood memang menurut saya telah menjalankan strategi “dakwah” yang luar biasa, dan tidak kita sadari. Film ini menunjukkan Islam yang sesungguhnya ; sangat menghargai siapa saja, damai, membawa keselamatan, sangat menghargai wanita (bukan sebagaimana doktrin yang menyatakan islam sebagai agama teroris, tidak menghargai wanita dan lain-lain). Jika beberapa reviewer menyatakan film ini tidak realistis, saya justru ebranggapan film ini sangat realistis. Sangat nyata. Sebagai contoh, dalam peristiwa ketika Fahri berpoligami, yang secara prinsip sah menurut agama, justru diperlihatkan betapa pusingnya Fahri untuk mampu berbuat adil. Film ini juga cukup berani memvisualisasikan tentang seorang muslim yang atas nama zionisme, kekafiran tidak mengizinkan seorang wanita amerika yang kelelahan mendapat tempat duduk di kereta. Film ini juga cukup berani menunjukkan tentang Nouva yang yang di siksa, diperkosa dan dizolimi oleh ayah palsunya. Tapi dimata saya, saya tidak melihat hal itu sebagai bentuk pelecehan terhadap Agama Islam. Justru buat saya menunjukkan keadilan, keluasan, dan keselamatan Islam yang sesungguhnya, sebagai agama bagu ummat sepanjang masa.

Dimata saya, kekuatan utama film ini memang ada di skenario, yang nota bene diambil dari buku kang abik. Dari sudut acting para pemerannya, saya memang tidak melihat ada pemeranan yang istimewa seperti peran Dedi Mizwar misalnya. Namun juga tidak jelek-jelek amat. Tapi biasa. Andai ada yang menurut saya paling pas, justru peran yang dilakoni oleh Carissa Putri.

Alur cerita, awalnya memang tidak menggigit. Tapi kulminasi yang terjadi beberapa kali cukup menarik. So, tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap mas Hanung, kekuatan utama film ini justru ada pada skenario yang sarat makna. Makna yang juga tidak dipaksakan, bukan harus distatementkan. Saya justru terganggu dengan “paksaan menyampaian makna” tentang baiknya nilai nilai Islam. Justru, menyampaian secara alamiah lebih menarik. But, mas Hanung, salut telah memfilmkan cerita ini. Jarang saya nonton di bioskop Indonesia, mengangkat tema agama, namun dapat dinikmati oleh ebrbagai kalangan, mulai dari wanita berjilbab yang memenuhi bioskop sampai gadis-gadis cantik ber rok pendek dan ber tank top, mulai dari bermata belok sampai sipit, berkulit putih sampai hitam legam.

Akhirnya, saya harus mengakui bahwa saya sepakat dengan komentar sahabat saya yang merekomendasikan saya menonton film ini. waktu itu dia berkata menyikapi kontroversi yang ada :

“film ini bercerita tentang hakikat. maka jika dilihat dari sudut syariat, maka sangat dimungkinkan film ini dianggap salah kaprah”

Bagaimana pendapat anda?

Related Posts by Categories - Postingan Sejenis :



APA ITU META TAG ?

What are meta tags? Meta tags are HTML codes that are inserted into the header on a web page, after the title tag. They take a variety of forms and serve a variety of purposes, but in the context of search engine optimization when people refer to meta tags, they are usually referring to the meta description tag and the meta keywords tag. Read More...

Memfilter Iklan Google Adsense Yang Muncul di Web

To create and manage a filter list of websites whose ads you'd like to restrict from showing on your site or AdSense for search results pages, simply log in to your account at https://www.google.com/adsense and click the Competitive Ad Filter link below the AdSense Setup tab. You can create separate filter lists for your content pages and for your AdSense for search results pages. Ads for the websites that you add to your competitive ad filter list typically will not run on your pages, but remember that filtering sites may decrease the number of ads that can appear on your pages as well as decrease your potential earnings. Read More...